Aku menamainya sabar....
Padahal ia adalah jeritan yang kupotong-potong
menjadi serpihan senyum.
Serpihan senyum yang selalu tampil tiap kali dunia bertanya "kamu baik-baik saja?"
Aku kecewa....
Kecewa pada jalan yang dipapah oleh takdir.
Kecewa pada kisah yang terlanjur kutuliskan karena percaya pada surga.
Kecewa pada semua yang ada hingga menumpuk seperti abu di ujung rokok.
Satu persatu kutarik, kuhirup, kutahan
sampai paru-paruku penuh bara
dan tenggorokanku lupa cara berteriak
untuk memuntahkan tinja di dadaku.
Aku marah pada janji yang datang tak kunjung ....
pada harapan yang pulang dengan tangan kosong....
Pada semua hanya "nanti" yang ternyata adalah kuburan jiwa dilidah malaikat...
Akumarah pada diriku yang masih memberi ruang
untuk hal-hal yang hanya pandai melukai.
Tapi aku diam....
Karena jika amarah ini kulepas,
iaa akan membakar jembatan, membakar nama, membakar semua kisah dan semua kenangan hingga hangus tak tersisa.
Kubungkus dia dengan rapih, kujahit ia di balik ruang hampa, biar jadi petir yang tidak pernah terdengar.
Kadang... di malam hari ia memberontak
berdetak terlalu keras, menuntut keluar tapi aku selalu berbisik pada cermin:
"Belum. Tahan dulu.
Dunia belum siap lihat kau meledak."
_________ MAMPIR DULU________
👇👇👇
Cara mulai bisnis tanpa modal
silahkan daftar di
Panduan cara cari duit online
lihat di
👇
LAZADA PESTA DISCOUND AGUSTUSAN
👇👇
Discount besar besaran hingga 50%
2026 di
👇👇
Discount iscount di 2026 dari
aplikasi 👇
--------------------- lanjut......
Entahlahh...
Yangg jelas, di jiwa ini
ada perang.
Perang yang tidak pernah akan kubiarkan dimenangi penyesalan nantinya dan tidak pernah kubiarkan kalah pada kesedihan dan air mata.

0 Comments
Tak suka tak harus memaki