Ad Code

Responsive Advertisement

ELEGI LANGIT TAK BERBINTANG.

 

Aku tahu... 
Pada akhirnya aku akan patah. 
Tapi aku hanya kalah, 
bukan mengalah, 
apalagi menyerah.

Aku tahu... 
Pada akhirnya aku akan dihabisi kenyataan. 
Tapi setidaknya, 
aku pernah berjuang.

Aku pernah melawan getirnya tangis, 
melawan laranya luka. 
Aku pernah menahan pekat air mata, 
lalu kuhapus sendiri 
dengan lentik ujung jariku.

Masa itu... 
Lebih dari seribu malam 
kulalui dalam rindu pada sebuah dekapan. 
Aku rindu bahu untuk bersandar, 
usapan di kepala, 
dan bisik yang berkata: 
_"Hei... selama ini kau sudah hebat. 
Teruslah berjalan. 
Waktu sedang menantimu."_

Tapi itu hanya rindu. 
Di alam nyata, 
yang kudapat gertakan, tawa sinis, 
caci maki, ejekan, 
dan tuduhan "pecundang".

Siapa yang ingin terbangun di tengah malam 
lalu mendapati langitnya tanpa bintang? 
Aku hanya manusia. 
Tidak bisa mengurai waktu, 
tidak bisa mengintervensi masa depan. 
Aku hanya tidak tahu 
ada pengkhianatan, 
lalu aku terjatuh... dan kalah.

Tapi tak mengapa. 
Satu hal yang harus kau tahu: 
Aku tidak pernah menghapus kasih sayangku untukmu. 
Itu akan selamanya.

Aku hanya kalah pada dunia 
dan manusia yang menuntut kemegahan. 
Aku tidak mengalah. 
Aku tidak menyerah.

Di sini... 
di ujung jalan... 
aku menantimu. 
Berikan aku sedikit kesempatan, 
hanya untuk sekadar berkata: 
"Maafkan aku yang tak mampu."

Lewat sebaris puisi yang kutitipkan pada angin, 
dengarkan aku, anak batinku. 
Kaulah bahagia terbesarku, 
dan kehilanganmu 
adalah keruntuhanku yang jadi kepingan.

Kunanti... 
kau di ujung jalan.
Giovanni Arhasel...!!! 
Dari aku, 
si pemilik hati yang terlunta.

---

Post a Comment

0 Comments