Puisi di bawah ini bukanlah suatu kesempatan bagi kita untuk terus merenung dan bersedih, namun suatu pengingat bahwa kita harus melihat makna di balik kepahitan hidup.
PENYESALAN TAKKAN MERAPUHKANKU
jika saja ada lorong tempatku kembali
aku ingin masa itu datang lagi
kala tubuh dan hati masih bersih tak bernoda
Hanya putih… dan putih…
ingin kutulisi dengan tinta yang seluruhnya emas
Agar sesal hari ini tak pernah ada.
Pikiranku terlalu liar untuk menerka-nerka hari depan
padahal aku sadar
kalau hari lalu masih menagih-nagih sisa pembayaran yang belum
sempat terlunaskan
Tapi takkan ku biarkan kegelapan menyapu
Aku kan bangkit dari reruntuhan lara ini
Pahitnya hidup, kan kugenggam erat
Sebagai tongkat yang membimbingku melangkah lagi.
Dalam pahit ini, ku temukan kekuatan
Mengubah pedih menjadi tinta puisi
Tiap air mata yang jatuh diharapkan
Akan menghiasi langkahku menuju kehidupan baru.









0 Comments:
Post a Comment
Tak suka tak harus memaki