Melalui puisi cinta romantis.
SAAT ITU YANG MEMBAWAKU KE SAAT INI
Saat itu aku hanya butuh separuh bahu.
Tempatku sandarkan lelahku dipecundangi dunia.
Tapi hardik dan tanpa gubris, membuat jiwaku kaku terkesima pada kekejaman.
Harapku luluh bagai gunung salju terbakar panas.
Saat itu aku hanya butuh belai lentik jari.
Menggambar kelembutan tuk membelai jiwaku yang babak belur dihantam angkuhnya ego.
Tapi sinis tanpa peduli menyeret jiwaku kedalam lara yang semakin dalam.
Saat itu kupalingkam arah lalu berlalu bersama luka dan genang air mata.
Menatap arah seakan semua hampa sampai aku tak lagi dapat membedakan siapa dan yang mana.
Kuayun langkahku tertatih menuju arah yang tak pasti.
Saat itu luluhku lanta tiada lagi berbentuk.
Kususuri tebing-tebing kehidupan yang sesungguhnya terlalu terjal bagi jiwaku yang lelah.
Seribu tiga ratus enam puluh lima hari masa itu kutapaki satu demi satu.
Sampai saat semedi jiwaku membawaku ke bentuk aku yang saat ini.
Bukan hanya rindu yang sudah menghilang, tetapi hasrat untuk bertemupun sudah tak lagi ada.
Bukan hanya cinta dan kasih sayang yang telah mengering, tapi ingatan tentang kenanganpu kini sudah terhapus.
Saat itu aku yang terapuh dari segala yang rapuh dan kini biarkan aku yang paling tersendiri dari semua yang menyendiri.
Keluarga dan persaudaraan ternyata bukanlah suatu ikatan darah dan daging, tapi hanyalah sebuah kebetulan belaka.
Mau Penghasilan Tambahan dari Website & Sosmed Kamu?
Gabung ribuan publisher dan mulai dapat cuan dari iklan berkualitas tinggi
MONEITASI
Daftar gratis. Bayar tepat waktu.








0 Comments:
Post a Comment
Tak suka tak harus memaki